Setiap pasangan yang mengelola keluarga wajib mengetahui dinamika organisasi, karena keluarga adalah organisasi terkecil dalam masyarakat. Karakteristik dan perjalanan dinamika organisasi juga akan terjadi pada keluarga. Kenali dan pahami dinamika keluarga, untuk menjadikan keluarga yang memiliki progress kebahagiaan yang semakin membaik.
Keluarga bahagia bukan berarti tanpa konflik sama sekali, bukan berarti tidak ada tangisan dan bukan pula tidak ada penderitaan di dalamnya. Keluarga bahagia menjadikan semua persoalan dan masalah yang dihadapinya sebagai pelajaran untuk meningkatkan derajat dan kualitas keluarga. Banyak tangisan yang berarti kebahagiaan, ada juga orang yang menikmati penderitaan bahkan ada pula orang yang menjadikan konflik sebagai ujian kesabaran dan mensyukurinya.
Namun demikian, keluarga yang produktif adalah yang memiliki efektif synergi yang lebih besar dibandingkan dengan maintenance energy. Efektif synergi adalah power kohesivitas keluarga yang mampu menggerakan seluruh anggota keluarga menuju tujuan bersama. Ibarat pedal gas dalam mobil dan bensin sebagai bahan bakarnya harus optimal dan mampu memacu kendaraan sesuai keinginan, bila perlu cepat maka bisa dilakukan. Adapun maintenance energy adalah masalah dan konflik yang ada pada keluarga, dapat diibaratkan sebagi jalan yang buruk atau rem pada kendaraan kita, kedua hal tersebut akan selalu ada dan tidak dapat kita hindari sama sekali. Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang mampu mengelola maintenance energy lebih sedikit dan fokus pada efektif synergi atau tujuan bersama.
Keluarga perlu memahami dinamika perjalanan kehidupan yang merupakan siklus yang pasti akan dilewati selama mengarungi bahtera rumah tangga. Paling tidak ada empat fase yang akan dihadapi oleh keluarga yakni, fase forming, fase storming, fase mourning dan fase terminating.
Fase forming, adalah fase pembentukan keluarga. Fase ini dapat disebut juga tahapan perkenalan hingga adaptasi dalam keluarga. Para anggota keluarga secara transfaran mulai saling mengetahui identitas masing-masing secara utuh terutama aspek-aspek perilaku anggota keluarga yang sebelumnya tidak nampak. tahapan ini bisa berjalan cepat atau lambat. Adaptasi yang cepat apabila anggota keluarga menerima keberadaan masing-masing baik kelebihan dan kekurangannya. Tahapan ini bisa berlangsung lama apabila anggota keluarga memolak dan keberatan terhadap karakter atau perilaku yang tidak diharapkan atau tidak sesuai. Maka dari itu setiap pasangan memerlukan fondasi perekat dalam keluarga yang dapat menyatuka kebersamaan keluarga.
Fase storming, adalah fase konflik atau badai. Tahapan ini adalah lanjutan dari tahapan sebelumnya. Apabila adaptasi terhadap anggota keluarga tidak berjalan mulus maka hal ini dapat pula menjadi faktor pemicu masalah yang lebih besar, sehingga rumah tangga seolah terserang badai. Bila kedua belah pihak bertahan pada posisi masing-masing dan merasa kesulitan untuk menerima pasangan dan beradaptasi dengan perilaku masing-masing, maka badai ini akan memecahkan bahtera dan menjadi kapal karam. Kepala keluarga adalah sang nakhoda harus memiliki kemampuan komunikasi efektif di tengah badai, agar para awaknya dapat terselamatkan, sehingga kapal dapat terus berlayar.
Fase mourning, adalah fase kemesraan atau fase produktifitas. Tatkala badai berlalu maka langitpun cerah. Organisasi yang baik adalah yang dapat mempertahankan stabilitas dengan panjang dan baik, negarapun tidak akan mampu membangun di tengah konflik apalagi keluarga. Kemesraan ini perlu terus dipertahankan, dipelihara dan ditingkatkan agar para anggota keluarga, terutama anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kepala keluarga perlu memiliki keahlian untuk mengelola dinamika kegiatan agar anggota keluarga memiliki tujuan-tujuan yang terukur.
Fase terminating, adalah fase perpisahan atau fase berakhir. Setiap anggota keluarga sejak awal wajib sadar bahwa pertemuan ini pada saatnya akan berpisah, baik temporer atau panjang. Perpisahan itu terjadi bisa karena gagal bersama karena konflik atau berpisah karena situasi normal, misalnya karena kematian, atau karena membangun keluarga baru dimana anak-anak yang telah menikah berpisah dengan orangtuanya. Keluarga yang berhasil dan bahagia sejatinya tidak ada kata berpisah, karena kematian hanyalah perpisahan sementara untuk bersama kembali di negeri akhirat, dan disana kita tidak akan mengalami dinamika seperti di dunia ini.
Keempat tahapan tersebut merupakan siklus dapat berulang-ulang terjadi pada keluarga. Keluarga yang baik adalah yang mampu mengatasi badai dengan cepat, bila perlu cegah sebelum badai datang. Keluarga yang baik juga mampu mempertahankan fase kemesraan dalam waktu yang tak terhingga atau panjang, dunia sampai akhirat.
Diambil dari buku apa ya kak kalo boleh tau?
BalasHapus