Kompetensi Ayah

, , No Comments

          Kompetensi adalah kumpulan kemampuan soft skill dan hard skill. Seorang ayah wajib memiliki kemampuan ini sebagai prasyarat menjadi imam atau pemimpin dalam keluarga. Pemimpin yang kharismatik, berwibawa memiliki arah dan tujuan hidup yang benar akan memberikan kenyamanan dan ketentraman dalam keluarga.
Figur ayah akan menjadi panutan bagi mereka penghuni rumah. Dapat dipastikan bahwa kehadiran sosok pemimpin dalam keluarga tidak hanya dibutuhkan secara fisik akan tetapi hadir pula secara psikologis. Baik buruknya sang pemimpin akan berdampak kepada baik buruknya pula fisik dan psikologis keluarga. Pertanyaannya adakah sekolah menjadi ayah yang memiliki kompetensi baik?
          Untuk menjadi sosok pemimpin yang memiliki kharisma maka dibutuhkan empat tahapan sebagaimana berikut, yakni memiliki wawasan yang luas, kemampuan mendengarkan, kemampuan berpikir positif dan kemampuan berkontemplasi.
          Syarat yang pertama memiliki wawasan yang visioner. Para pemenang dan pemimpin adalah yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan mengetahui zaman dan situasi yang akan terjadi di masa depan akan memberikan kepercayaan dan keyakinan pada seluruh anggota keluarga, dan kepercayaan adalah modal besar untuk menjadi pemimpin. Mengetahui masa depan akan mengarahkan sang ayah untuk membuat rencana bagi keluarga, dan perencanaan adalah 50% keberhasilan. Perencanaan yang dimiliki sang ayah akan membuat keluarga tertib, teratur dan dinamis.
          Untuk menjadi Visioner, ayah harus menjadi pendengar yang baik. Kemampuan mendengarkan dengan baik adalah kemampuan kedua yang harus dimiliki ayah. Belajar, mendengarkan dan menyimak akan mengasah intelektual kita semakin terbuka. Sebaliknya banyak berbicara akan membuat kita semakin pandir, bodoh dan tidak tahu bahwa lingkungan sekitarnya telah berkembang pesat. Mendengarkan itu lebih sulit dari berbicara. Ayah wajib berlatih keras untuk mendengarkan apa saja termasuk yang diutarakan anak dan istrinya sebagai bekal untuk membuat perencanaan.
          Ayah tidak akan mampu mendengarkan dengan baik jika tidak mampu berfikir postif. Berbaik sangka adalah kemampuan ketiga yang perlu dimiliki oleh ayah. Pikiran-pikiran positif akan membuka hubungan sesama dengan baik sebaliknya pikiran negatif atau buruk sangka akan menjauhkan jarak komunikasi dengan pihak lain. Bila apatis, negatif thinking, buruk sangka kita akan langsung menutup pendengaran kita.

          Adapun berpikir positif kepada manusia tidak akan terjadi selama hubungan kita dengan Alloh SWT sang pencipta belum rapih. Berpikirlah tentang segala apa yang telah terjadi dengan alam dan diri kita. Hubungan kita dengan dzat pencipta dapat dikatakan tuntas apabila kita telah menemukan kebesaran, kemurahan dan keagungan NYA, dan menemukan bahwa kita lemah, tak berdaya, sangat kecil dan betul-betul tergantung pada kehendak Azza Wajalla. Sehingga keluarlah rintihan pilu pertaubatan dan istigfar atas segala apa yang telah kita lakukan.

0 komentar:

Posting Komentar