Sekilas memahami tentang pengelolaan keluarga, banyak sekali pandangan, teori pengalaman, cara dan seluk beluk tentang bagaimana mengelola keluarga dengan baik. Bagi saya pribadi kadang hal tersebut terlalu menuntut dan membuat rumit segalanya. Menjadi ayah yang lebih baik itu bagus, namun menjadi ayah yang baik dan sempurna, pasti tidak mungkin, kesempurnaan bukan milik manusia. Ayah memiliki beban yang sangat berat dihadapan Alloh AWJ, karena semua tanggung jawab berada dipundaknya. Adapun ayah sebagai manusia pasti tidak akan luput dari kesalahan dan dosa, terkhusus lagi tatkala membesarkan anak.
Namun demikian tentu selalu ada jalan keluar bagi ayah dalam menghadapi situasi krisis, panik dan tak terkendali sehingga dengan atau tanpa sengaja ayah pada akhirnya melakukan kesalahan kepada anggota keluarga yang lain. Tindakan itu diantaranya adalah meminta maaf, berterima kasih, attending/touching, mendoakan dan dialog.
Tindakan pertama adalah memaafkan dan meminta maaf. Dalam situasi konflik, perdebatan, ketegangan menjadi tidak terkendali. Esensi benar dan salah tidak hanya menjadi acuan siapa yang memenangkan persengketaan, namun cara bicara yang benar atau salah dapat menjadi persoalan juga. Boleh jadi topik esensi benar tapi cara menyampaikan tidak tepat. Maka dari itu peluang salah sangat mungkin terjadi pada kedua belah pihak yang berkomunikasi. Berdasarkan hal itu ayah perlu inisiatif meminta maaf dan memaafkan sekalipun dia berkeyakinan tidak salah.
Tindakan kedua adalah berterima kasih. Pengakuan dan penghargaan dengan sikap dan perkataan dapat pula menjadi sesuatu yang berharga bila dibandingkan dengan materi. Akan tetapi kadang kala memuji dan berterima kasih pun bukanlah hal yang mudah. Selain karena mungkin saja apa yang terjadi bukanlah sebuah prestasi besar atau peristiwa biasa, namun memuji berlebihan pun bukanlah sesuatu yang baik. Memberikan penghargaan yang wajar sesuai dengan kadarnya akan menjadi pengikat hubungan emosional yang baik. Biasanya pengalaman akan menuntun kita untuk mengetahui kapan saatnya untuk memberikan pujian dan ucapan terima kasih.
Tindakan yang ketiga adalah touching/attending, berupa pelukan, sentuhan, belaian atau menjaga kedekatan jarak, bagian yang tidak boleh dilewatkan. Bahkan Nabi kita pernah meminta seorang ayah untuk mencium anaknya yang masih kecil, ini bagian dari cara menjaga dan mewariskan hubungan yang baik diantara orang tua dan anak. Pelaksanaannya tentu dituntut kedewasaan dan kebijaksanaan ibu dan ayah, pada saat yang tepat, dengan cara yang baik akan menghasilkan momen yang indah yang tidak akan dilupakan. Sentuhan itu juga bisa dimaknai dengan sentuhan melalui bahasa tubuh dan kalimat yang baik.
Terakhir yang penting lainnya adalah mendoakan, baik diketahui atau tidak oleh anak. Nabi Ibrahim adalah orangtua yang mulia dan super. Caranya mendidik, kelembutan bahasa, kesabaran dan semua kesempurnaan perilaku ayah ada pada dirinya. Namun demikian dia tetap meminta kepada tuhannya, agar keturunannya disolehkan. Bagi kita orangtua yang tidak sehebat nabi Ibrohim tentu harus lebih sering, lebih kuat dan lebih hebat meminta kepada Alloh Azza WaJalla agar anak dan keturunan kita menjadi keturunan yang Solih/ah
0 komentar:
Posting Komentar