Namanya juga manajemen keluarga, maka membicarkan visi keluarga bukanlah suatu yang berat, tetapi memang memandang keluarga juga bisa berat tergantung darimana dan sudut apa kita memandangnya. Boleh jadi banyak pasangan yang memandang biasa-biasa saja, atau ada pula keluarga yang memandang sebagai bagian penting dari negara.
Apapun pandangan kita tentang keluarga maka pandangan tentang keluarga itu antara pasangan dan anggota keluarga haruslah sama, atau paling tidak tidak ada pandang yang terlalu jomplang diantara anggota keluarga. Visi keluarga ditentukan oleh pasangan itu sendiri, tatkala mereka memutuskan untuk bersatu dan bersama-sama menjalani hidup. Paling lemah adalah keputusan untuk bersama karena didasarkan pandangan fisik atau visus (mata normal). Kenapa dikatakan lemah, karena organ mata kita memiliki banyak kelemahan diantaranya adalah keterbatasan jarak pandang.
Meningkat sedikit adalah pandangan yang disertai pemikiran. Keputusan yang diambil berdasarkan tidak hanya visus tetapi juga pendalaman dan konfirmasi terhadap calon pasangan, tetapi apa yang ada dibalik matanya (otak) yaitu bagaimana cara istri/suami menentukan sikap dan tindakannya di saat yang akan datang. Yang paling tinggi dan baik adalah memandang dengan hati, mata hati adalah pandangan yang sulit kita pahami tetapi biasanya berkata benar dan jujur. Agar hati ini bersih, dapat diminta jawaban yang jujur maka kemurniannya haruslah dijaga. Seringkali hati diintimidasi oleh mata dan pikiran agar melegitimasi hawa nafsu. Kuncinya biarkan hati memilih dan bukalah mata dan pikiran, agar tunduk patuh pada hati.
Model-model keluarga sangatlah bervariasi tergantung visi yang ditetapkan oleh keluarga khususnya kepala keluarga. Ada keluarga yang memiliki visi akhirat yang sangat dominan dimana itu dapat kita lihat pada keluarga nabi SAW. Keluarga lainnya adalah keluarga yang diperuntukan hanya untuk kepentingan dunia saja, paling jauh hanya untuk mempersiapkan hari tua. Dari kedua kutub yang berbeda ini akan melahirkan banyak jenis dan model keluarga.
Keluarga perpustakaan. Keluarga yang memiliki dominasi hobi membaca pada seluruh anggotanya, menjadikan buku-buku sebagai menu utama dalam interaksi mereka. Sangat menjungjung ilmu dan biasanya kurang mahir dalam kegiatan fisik.
Keluarga Rumah Makan. Keluarga yang begitu aktif mengupdate kuliner dan menjadikan topik kuliner sebagai bahasan yang sering muncul dalam diskusi keluarga. Eksperimen-eksperimen menu baru menjadi keharusan dalam kegiatan sehari-hari.
Keluarga Atlit. Keluarga yang mengarus utamakan sebagai perilaku hidup sehat dan berolah raga sebagai kegiatan utama. Latihan-latihan fisik dan prestasi olahraga menjadi tujuan utama sebagai target yang wajib dicapai.
Keluarga Bioskop. Keluarga yang aktifitasnya hanya menonton. Seperti yang kita kerap dengar ungkapan di televisi, jangan kemana-mana, keep watching dan lainnya. Kegiatan rumah terus mengikuti tren-tren televisi, masing-masing asyik dengan rangkaian cerita bersambung TV.
Keluarga Afirmatif. Keluarga yang lebih senang banyak bercengkrama. Berkumpul bersama berdiskusi tentang topik-topik tertentu dan melakukan kegiatan-kegiatan bersama seperi piknik keluarga dan kegiatan lainnya.
Keluarga Quran. Keluarga yang di rumahnya senantiasa terdengar lantunan ayat-ayat al quran oleh seluruh penghuni rumahnya. Tidak hanya anak-anak tetapi juga orangtuanya yang terbiasa pada waktu tertentu membacanya.
Keluarga bahagia, adalah keluarga yang memiliki visi yang baik dan panjang kemudian melakukan beberapa variasi kegiatan di rumahnya sehingga dinamika keluarga berjalan dengan baik. Ingat keluarga bahagia bukan yang selalu tertawa terus. Bahagia kadang didapat saat menangis, saat bersedih, saat kehilangan, saat sakit ada juga bahagia. Tidak semua orang yang tertawa juga bahagia, silahkan lihat di rumah sakit jiwa. Jadi ini hanya soal persepsi tentang apa yang menimpa kita dan bagaimana menjalaninya.
0 komentar:
Posting Komentar