Sekalipun saya seorang praktisi kesehatan, namun untuk urusan keseleo kami tidak pernah mempelajari hal tersebut lebih baik daripada tukang urut. Saya tidak pernah menyangka bahwa diskusi menarik dengan ayah saya menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Obrolan santai itu dimulai saat saya membuka dialog dengan ayah (abah), saat beliau mengurut kaki karena saya terkilir dan lama tidak kunjung sembuh. Panjang dan lebar beliau menjelaskan, kadang saya pun merasa dianggap bodoh, masa orang kesehatan dianggap tidak tahu persoalan otot dan kawan-kawannya. Namun saya juga tetap penasaran karena kami di bangku kuliah dahulu kenyataannya belum menemukan topik kuliah dengan judul "pijat urut".
Barulah setelah sesaat Abah melakukan gerakan-gerakan khusus tertentu, dan anehnya tanpa saya rasakan sakit, saya percaya bahwa apa yang dilakukannya benar-benar membuat saya bisa berjalan baik seperti sedia kala. Usut punya usut ternyata abah mempelajari pijat urut pada seseorang di kampung kami. Awalnya abah hanya datang sesekali saat abah sakit otot di tengkuk atau leher, Karena merasa cocok dan tepat kemudian abah melanjutkannya menjadi murid tukang urut tadi dengan mengambil kursus singkat.
Wal hasil abah memiliki kemampuan urut yang lumayan baik. Lumayan karena saya bukan pasien pertamanya, sudah banyak pasien yang abah tolong. Sebut saja Ny L., masih keluarga kami juga memiliki masalah yang cukup menggelikan bagi yang mendengar, namun bagi pasien tentu sangat mengganggu. Dia tidak bisa jongkok, kaki-kainya kaku, dan paling repot kalo sudah berurusan dengan toilet, bisa dibayangkan bila dia mau BAK dan BAB. Sudah banyak dokter dan tukang urut yang beliau kunjungi tapi belum ada yang bisa mengatasi masalahnya. Sampai tanpa disengaja beliau mengunjungi abah untuk silaturahmi sebagai saudara, bukan sebagi tukang urut. Barulah ketika keluhan saudara itu muncul dan dengan sejurus abah mempraktekan pengetahuannya, dengan seizin Alloh SWT, dia sembuh, luar biasa.
Kisah lainnya, di tempat yang agak jauh dari rumah abah sekitar 15 km-an, ada pasien pasca stroke yang memiliki kelumpuhan sehingga tidak mampu bicara. Singkat kata abah pun melakukan gerakan-gerakan khusus dan tertentu itu, Alhamdulillah pasien tersebut dapat kembali berbicara.
Kisah-kisah tadi membuat saya tertarik untuk mempelajari kemampuan urut abah. Berdasarkan penjelasannya sebetulnya ilmu itu tidak bertentangan dengan ilmu medis, bahkan boleh jadi ini adalah terjemahan dari ilmu anatomi dan fisiologi tubuh. Kesimpulannya ada dua yang dilakukan abah (ilmu urut abah). Pertama tekan, atau lakukan penekanan pada bagian tendon/ligamen (urat penghubung) dengan tekanan maksimal, tapi jangan melukai. Pasien yang berotot cendrung akan lebih sulit ditekan karena ototnya lebih kuat dan kaku. Kedua lakukan teknik putaran berdasarkan ROM (Range of Motion) pada daerah sendi yang keseleo, perlahan-lahan sampai pada tingkat maksimal. Lakukan terus menerus pada saatnya tendon/ligamen tersebut akan kembali ke tempat semula atau tidak tegang lagi.
Kami tidak menyangka bahwa pengetahuan saya dari abah tersebut sangat bermanfaat, terutama satu waktu yang akan selalu kami ingat. Waktu itu Aisyah putri sulung kami masih sekitar usia 2-3 tahun, saya biasa bermain-main dengannya, bahkan permainan yang cukup beresiko seperti menarik kedua tangannnya dan memutarkan tubuhnya dengan tumpuan saya, seperti kipas angin yang memutari ruangan. Kebiasaan itu tidak membuatnya terluka, malah membuatnya senang dan girang campur hawatir dengan sensasi angin yang menerpa wajah dan tubuhnya. Namun suatu ketika Istriku hendak memindahkan posisi aisyah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menarik sebelah lengannya, dan aisyahpun berteriak kesakitan, rupanya tanagannnya keseleo. Allhamdulillah dengan pengetahuan yang saya dapatkan, kami tidak perlu pergi ke tukang urut, istripun kembali tenang sebelum setelahnya cemas karena khawatir anaknya kenapa-napa.
Banyak hal yang saya dapatkan dari urut abah ini selain bisa mengurut diri sendiri khususnya keseleo bukan dislokasi sendi. Abahpun demikian disaat terserang stroke yang menimpanya hingga melumpuhkan seluruh tubuhnya sesaat, dengan bantuan anak-anaknya dan tentu saja seijin Alloh SWT, abah bangkit dan mampu berjalan sehat serta berbicara seperti sedia kala setelah serangan pertama tersebut. Terimakasih abah...(DRH)
0 komentar:
Posting Komentar