Tahun 1998 adalah tahun dimana anak pertama kami lahir, sebagai keluarga baru pengalaman setiap orang akan berbeda-beda, tapi kita dapat mengambil pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Selain rasa haru dan syukur atas kelahiran putri kami, ada catatan penting yang tidak pernah saya lewatkan untuk dikisahkan agar menjadi pelajaran berharga.
Sebagai anak sulung dari dua saudara, ibu saya sangat mengharapkan cucu pertamanya adalah anak perempuan mengingat kami berdua adalah anak laki-lakinya. Sedangkan saya sangat mengharapkan anak sulung kami adalah laki-laki, dengan berbagai alasan pertimbangan rasional. Sayapun hanya mempersiapkan satu nama anak laki-laki, karena begitu yakin dan penuh harap. Saya dan ibu jadi berdebat tentangnya, sehingga harus berakhir dengan pertarungan dalam doa, ya pada akhirnya DIAlah yang memutuskan siapa anak kami nantinya.
Banyak persiapan yang telah kami lakukan terutama persiapan terkait dengan fisik dan sarana ketika waktunya tiba. Berdasarkan pengalaman orang lain yang kami minta pengalamannya, ada kebutuhan bayi baru lahir yang wajib banyak, seperti popok bayi kain pernel, kain samping (sunda), baju kutung dan baju hangat, selimut serta alat-alat tambahan lainnya.
Pada kehamilan pertama istri sempat abortus, gara-gara kebodohan sendiri. Seorang saudara tepatnya kakak istri menawarkan herbal rumut fatimah namanya. Bentuknya khas tanaman arab, seperti rumput dengan warna kecoklatan dan teksturnya lebih keras, benda itu baru dibawa pulang dari arab oleh orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Rumput fatimah katanya bagus untuk 'kehamilan' (awal dari masalah datang). Saya bersemangat untuk membantu istri mengkonsumsi fatimah, karena sangat menginginkan istri sehat dan lahir normal. Usia kandungan saat itu baru empat bulan. Setiap hari saya minta istri meminumnya karena sudah saya sediakan dan siapkan. Caranya mudah, rumput itu direndam di air panas (mendidih) diamkan sampai dingin (tiriskan) kalau sudah dingin baru diminum, rasa dan baunya seperti pacar arab, saya tahu karena pernah mencobanya juga.
Sekitar seminggu mengkonsumsi fatimah pada tahun 1997, dalam suatu senja tiba-tiba istri mules-mules dan keluar masuk toilet, dan dari jalan lahirnya keluar darah serta potongan darah kental seperti daging (mungkin calon janin/embrio). Cemas, bingung dan kaget menghadapi situasi seperti itu, sampai sekarang masih terbayang. Tiba-tiba pintu rumah kami ada yang mengetuk, dan suaranya sangat saya kenal, karena seorang sahabat. Perasaan yang sedang berkecamuk itu jadi sirna, sahabatku itu datang dengan istrinya yang berprofesi sebagai bidan, dan luar biasa seperti dan memang pasti telah menjadi rencana Alloh SWT untuk menolong kami. Bu bidan kemudian memeriksa jalan lahir, dan membuat kesimpulan bahwa kehamilannya dalam proses aborsi, sisa-sisa darah dan daging harus dikeluarkan bersih dari rahim, bila tidak harus dikuret. Untuk membantu proses kontraksi bidan memberikan injeksi antara metergin atau etil ergometil (lupa), saat itu bidan masih diperbolehkan melakukannya (induksi). Alhamdulillah berjalan lancar tidak harus masuk rumah sakit bersalin.
Peristiwa tersebut sampai juga ke kakak yang memberikan fatimah, dan ternyata kegunaan fatimah adalah untuk memperlancar persalinan bukan kehamilan, inilah awal dari kesalahan tersebut. Konsumsi rumput fatimah baru diperbolehkan disaat fase pembukaan atau kala II. Mungkin fatimah mengandung oksitosin yang kuat sehingga merangsang rahim berkontraksi, dan akhirnya menggugurkan janin istri.
Tidak terasa delapan bulan telah berlalu, kini tepatnya juni 1998 saatnya menunggu kelahiran si bayi dengan prediksi kelahiran tanggal 26 Juni. Namun pada tanggal 23 juni tepatnya hari selasa, pada siang hari istri sudah merasakan kontraksi. Menjelang asar saya berkunjung ke bidan sahabat saya yang tempo hari menolong kami. Berdasarkan pemeriksaan pembukaannya sudah 2 jari atau sekitar dua centimeter. Perasaan tenang dan senang demi menunggu sang buah hati lahirpun meliputi kami. Setelah tahu demikian, kami memilih tinggal dan menunggu di rumah bidan, siapa tahu proses pembukaannya cepat, secara teori untuk primipara Kala 2 atau pembukaan biasanya sekitar 12 jam, jadi mungkin sekitar malam hari baru melahirkan, demikian pula prediksi yang sama diperkirakan oleh bidan. Malam telah menjelang, berita istri akan melahirkan pun tersebar, meski saat itu sosmed belum seperti sekarang ini, rasanya belum ada. Seorang kawan bersama istrinya menengok kami. Ada satu pertanyaan yang tidak pernah saya lupakan, yakni pertanyaan tentang bagaimana perasaan saya saat menunggu kelahiran? apakah cemas?, jawabannya tentu tidak, kenapa harus cemas, saya siap fisik, dan bahkan siap mental, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan kelahiran saya cukup paham, apa yang harus dicemaskan (ada perasaan angkuh sekalipun sedikit). Walau pengetahuan itu cuma teori, toh teoripun berasal dari lapangan praktek.
Setelah kepulangan kawan tersebut, rupa-rupanya malam menjadi semakin panjang, bagaimana tidak pembukaan istri pada kala 2 tersebut tidak bertambah, kecuali hanya sedikit. Hampir setiap jam bidan memeriksa dalam (tusi), mulai jam 9, 10, 11, 12, jam 01, 02, 03, 04, jadi kasihan tidurnya terganggu. Kami pun tidak kalah terganggu apalagi sang istri, saya bergantian dengan ibuku melakukan masage gate control teory, mengelus punggungnya agar sakit saat kontraksi berkurang, namun hal itu tidak mengurangi beban penderitaannya kecuali sedikit saja. Malam telah berganti siang pembukaannya hanya bertambah menjadi 4cm saja dari 10cm yang seharusnya. Bidan yang telah berpengalaman inipun memotivasi kami untuk bersabar agar menunggu. Menjelang asar pembukaan tetap tidak bertambah hanya 8cm. Kakak dan ibu mertuapun telah datang, berkumpulah beberapa orang yang cemas, letih dan galau dalam satu tempat, menjadikan kepanikan muncul, hingga opsi di bawa ke rumah sakitpun muncul dari percakapan kami, hal ini terjadi karena melihat payahnya istri dan ada sedikit keraguan kepada bidan karena dianggap masih muda.
Tepat setelah asar, kami (saya dan bidan) sepakat melakukan induksi, saya sendiri yang melakukan injeksi pada kedua pahanya. Meski pembukaan masih 8cm yang sebetulnya tidak boleh melakukan meneran atau mengedan, karena akan berdampak pada masalah lainnya seperti robek perineum (mulut jalan lahir). Tapi mau apa lagi pembukan sudah 25 jam, sudah lebih dari dua kali lipat normal, infus juga sudah dilakukan, dan ini adalah tenaga sisa istri setelah tidak tidur sepanjang pembukaan, merasakan letih, lelah campur kesakitan. Setelah beberapa kali mencoba meneran, si bayi tak kunjung bergerak, istripun merasa frustrasi, semua apa yang telah dilakukannya sudah tak berdaya. Kami terutama saya juga telah sangat dalam dan jauh merasakan kejatuhan fisik dan mental sejatuh-jatuhnya, pilihannya menjadi semakin kuat bawa ke rumah sakit.
Heeaaah, saya menarik napas mengingat kejadian besar itu, jadi sedih ketika mengingat pertanyaan kawan tadi malam, sore ini bukan cemas lagi, bukan galau lagi, kami dibuat frustasi oleh keadaan ini. Baru tersadar bahwa kesombonganku yang mempersulit keadaan ini. Sejenak saya minta rehat sebelum istri coba mengedan lagi, saya ijin minta ditunjukan tempat solat di rumah bidan itu, dalam solat dan doa penuh penyesalan, dikuatkan oleh isak tangis seorang lelaki sombong yang tidak tahu diri, penuh harap kepada Alloh SWT untuk mempermudah kelahiran anakku. Usai solat jadi lebih tenang, saya mengusulkan agar istri di bawa saja ke rumah sakit, namun bidan menolak, argumentasinya menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan istri saya, dia sangat yakin dengan kelancaran persalinannya, tinggal mencoba lagi meneran. Kamipun setuju untuk mencoba ulang.
Sesaat sebelum istri mencoba mengedan lagi, suami bidan sahabatku memanggil istrinya, dia meminta mengganti kata intruksi mengedan, biasanya bidan berkata bagus! terus! bagus! sambil memimpin persalinan. Suaminya meminta menggantinya dengan kata kurang! kurang! dan terus kurang!. Setelah beberapa kali meneran akhirnya Alhamduillah bayi perempuan, seberat 3,4kg lahir sekitar jam 17an. Ibuku gembira bukan kepalang karena bayinya perempuan, doanya yang terkabul, kami pun turut senang yang penting bayi dan ibu sehat setelah melewati peristiwa panjang sarat makna dan sungguh sangat melelahkan. Hanya saja saya hanya mempersiapkan nama bayi untuk laki-laki.
0 komentar:
Posting Komentar