Kota kami dijuluki Swiss van Java, mungkin karena kemiripan letak kota yang dikitari oleh banyak gunung. Akhir-akhir ini potensi pariwisata kota semakin terbuka lebar, kunjungan wisatawan domestik dapat terlihat setiap hari libur. Banyaknya kolam air panas dan pemandiannya menjadikan lengkap sudah kota ini menjadi destinasi wisata favorit. Cuaca kota yang sejuk seperti di puncak bogor menambah suasana semakin adem bagi para pencari rileks di tengah kesibukan kerja mereka.
Tapi bagi kami cuaca tersebut juga tidak hanya berpotensi ekonomi tetapi juga berpotensi penyakit. Diantara mikroorganisme yang dapat bertahan dan tumbuh dalam suasana dingin dan sejuk adalah mycobacterium tuberkulosis (TBC). Penyakit yang mirip-mirip seperti tbc tersebut dan juga tumbuh banyak adalah bronchitis, dengan gejala dan penatalaksanaan yang hampir mirip sangat mendominasi kejadian morbiditas/mortalitas (kesakitan) yang tinggi.
Banyak faktor yang pernah diteliti oleh para ahli tentang faktor-faktor penyebab terjadinya penyakit tersebut. Penyakit ini membuat saya khawatir terjadi pada anak-anak kami. Fakta-fakta litelatur dan laporan rekam medis puskesmas dan rumah sakit, serta tetangga dan saudara kami yang terkena penyakit tersebut, membuat saya semakin cemas. Kecemasan itu meningkat setelah melihat pertumbuhan putri kedua kami yang 'terlihat' seperti tumbuh terlambat.
Saya cukup heran dengan situasi ini, karena faktor-faktor determinan penyebab kejadian bronchitis itu sudah kami hindari. Seperti imunisasi BCG, alhamdulillah sudah lengkap. Faktor lain seperti ventilasi rumahpun sudah kami perhitungkan. Ventilasi dan pencahayaan rumah kami sudah jauh melebihi standar kesehatan yakni 10%-15%, sehingga memungkinan agar bakteri tidak hidup karena sinar matahari lebih dari cukup memasuki semua ruangan rumah kami. Faktor gizi dan asupan nutrisi juga sudah kami perhitungkan, tidak berbeda dengan kakaknya, dengan pola yang sama seharusnya pertumbuhannya juga tidak jauh beda.
Sedih dan cemas melihat anak yang sakit, apalagi anak ini memiliki kemiripan yang cukup banyak dengan saya bapaknya, mulai dari tanggal kelahiran, bulan kelahiran, sampai rambut yang keriting juga. Sering karena merasa banyak kemiripan anak ini juga sedikit manja sama bapaknya, terkecuali sekarang setelah punya banyak adiknya.
Sebetulnya gejala-gejala pokok dari penyakit bronchitis ini tidak nampak pada anak saya, seperti flu pilek yang lama, meleran, batuk hingga sesak nafas, kondisinya betul-betul baik, kecuali hanya pertumbuhannya saja. Kekhawatiran kami hanya karena pertumbuhannya itu dan wabah yang menimpa anak saudara kami. Akhirnya saya mengambil keputusan yang penting anak ini harus segera di Rontgen (foto sinar X). Hasil dari pemeriksaan dokter spesialis radiologi menyatakan bahwa anak kami suspect bronchitis. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2004, bersamaan kepindahan rumah kami dari pinggir kota di kaki bukit ke pertengah kota yang masih di kaki bukit/ gunung (karena dikitari gunung).
Setelah konsul dengan teman seorang dokter saya menentukan untuk mencoba mengobati anak kami selama satu bulan. Rifamfisin dan Etambutol, biasanya dipake untuk tuberkulosisi menjadi pilihan saya. Alhamdulillah dengan bantuan teh manis putri kami disiplin setiap pagi meminumnya. Obat ini tidak boleh ada jeda karena termasuk golongan antibiotik, bila sampai lupa, harus diulang lagi dari awal, kasihan. Saya dan istri saling mengingatkan untuk tidak lupa meminta anak meminum obat tersebut.
Hasilnya, atas ijin Alloh SWT anak kami sehat dan tumbuh berkembang baik. Sekarang usianya sudah 15 tahun, saya sering tersenyum tatkala melihat fotonya yang masih berusia 5 tahun dengan badannya yang kurus kecil dengan rambut galingnya (ikal). Sekarang tinggi badannya telah melewati tinggi ibunya, dan masih mungkin lebih tinggi lagi. Dan yang membanggakan dia memiliki semangat dan kecerdasan yang baik.
0 komentar:
Posting Komentar