Program KB (Keluarga Besar) ke-1

, , No Comments
Keluarga Berencana adalah bagian penting dari fokus diskusi agar keluarga bahagia. Terlepas dari sudut pandang agama tentang halal dan haramnya membatasi jumlah anak dan cara bagaimana berKB, tetap keluarga wajib memiliki perencanaan, dan untuk membuat perencanaan maka perlu mempertimbangkan beberapa hal antara lain.
Kesehatan si Ibu menjadi faktor utama yang wajib dipertimbangkan. Sekalipun hamil dan melahirkan bagi seorang wanita termasuk kategori jihad fii sabilillah, keluarga tetap wajib mempertimbangkan keberlangsungan kehidupan ibu. Faktor-faktor resiko tinggi yang berujung kepada penyebab kematian wajib dicegah dan itu pun termasuk kehamilan atau persalinan. Fatwa ulama ketika dihadapkan pada dua pilihan, apakah membiarkan ibu hidup atau calon bayi, pilihannya adalah selamatkan ibunya. Ibu juga memiliki karakteristik unik, boleh jadi orangtuanya subur namun anaknya berbeda atau sebaliknya. Jadi merencanakan jumlah anak perlu memperhatikan kesehatan ibu, selain bebas penyakit juga usia ibu. Kita boleh merencanakan tetapi pada akhirnya Alloh SWT yang akan menentukan kehendak Nya.

Hal kedua yang perlu diperhatikan oleh keluarga adalah kesehatan anak. Maksud anak adalah hak-hak anak ketika dilahirkan. Hal ini berarti perhatikan jarak kehamilan dan kelahiran. Salah satu hak anak adalah mendapatkan air susu ibu (ASI) yang cukup, silahkan cek dalam al Quran tidak kurang sekitar 30 bulan anak berhak disusui ibunya. Dalam ilmu kesehatan anak berhak mendapatkan ASI ekslusif minimal selama enam bulan. Hal ini mengisyaratkan bahwa keunggulan asi menjadi satu-satunya pilihan untuk kesehatan tubuh anak di masa yang akan datang. Jadi dapat kita ambil jalan tengahnya paling tidak jarak kehamilan antara anak sebaiknya sekitar dua tahun atau 24 bulan. Apabila jaraknya pendek dikhawatirkan tidak hanya ASI yang tidak terpenuhi (pada saat hamil ASI berhenti sendiri), tetapi kasih sayang anak juga belum terpenuhi, sebagi modal pola asuh yang baik bagi anak jika nanti tubuh besar.

Hal ketiga yang perlu diperhatikan saat perencanaan adalah kemampuan kita dalam mendidik dan membesarkan anak, termasuk salah satunya adalah kencedrungan ekonomi kita, sekalipun jangan pernah meragukan rejeki karena setiap anak memiliki rejeki masing-masing. Faktor ekonomi juga akan menjadi salah saru saham keluarga yang akan menentukan gaya atau model bagaimana pola keluarga membesarkan anaknya. Akan tetapi hal yang lebih penting adalah pengetahuan keluarga dan sikapnyalah yang wajib menjadi penentu seberapa baik kemampuan mereka dalam mengelola jumlah berapa anak yang bisa mereka didik dan bina sehingga menjadi pribadi yang besar. Lihat doa nabi nuh dalam quran surat Nuh, di akhir sutat dia berdoa agar keturunan orang kafir tidak banyak melahirkan anak (pemahaman sendiri). Sekali lagi hanya rencana hasilnya Alloh SWT yang akan menentukan.

Hal keempat yang perlu diperhatikan adalah cara berKB yang aman bagi ibu, kadang para suami egois dan tidak mau tahu urusan kesehatan istrinya, yang penting tidak mengganggu kebutuhan dirinya saja. Perlu diperhatikan oleh para suami bahwa semua cara KB yang digunakan memiliki resiko menyakiti ibu. Terutama yang bersifat hormonal dampaknya sungguh mengerikan. Dosen kami pernah berdiskusi dengan seorang dokter asing sekitar awal 80-90an, bahwa program KB hormonal baru diujikan kepada kelinci saja di negaranya, dan kepada manusia baru di Indonesia (Asia Tenggara).

Kenapa berbahaya?, cara kerja dari KB hormonal adalah dengan memanfaatkan sistem feedback hormonal. Jika darah kelebihan hormon maka akan memberikan stimulasi negatif kepada otak agar tidak memproduksi hormon tertentu. Jika yang disuntikan, diminum atau diimplant adalah hormon estrogren dan progesteron maka tubuh ibu akan menghentikan produksi hormon estrogren dan progesteron yang dampaknya adalah menghentikan ovulasi.  Dampak selain ovulasi adalah berkurangnya fungsi-fungsi yang dilakukan oleh kedua hormon tersebut seperti pembentukan tulang, pada kasus lainnya berdampak pada metabolisme ibu seperti diabetes dan obesitas. Penyakit lainnya adalah jantung dan yang paling dirasakan oleh ibu adalah menurunnya libido seksual ibu karena minimnya produksi hormon. Apabila berlangsung lama karakteristik ibupun cendrung lebih maskulin karena estrogen dan progesteron adalah hormon spesifik wanita, jadi jika tidak ada bisa dibayangkan.

Cara KB yang lainnya adalah menggunakan alat kontrasepsi dalam rahin AKDR atau IUD. Meskipun tidak bersifat hormonal dan tidak akan mengganggu sistem hormon ibu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh keluarga. AKDR adalah benda asing yang ditanam secara sengaja. Setiap benda asing yang ditanam maka akan direspon oleh rahim sebagai benda asing, biasanya akan menimbulkan kontraksi sebagai cara untuk mengeluarkannya dari rahim karena dianggap sebagai masalah. Dampaknya siklus haid ibupun kerap tidak tetap dan durasinya menjadi lebih panjang. Perdarahan yang panjang dan lama menurut prediksi akan berdampak buruk juga. Salah satu dampaknya akan mengakibatkan kelainan sel. Baru kehawatiran belum saya baca dan temukan dampaknya akan seperti itu tapi di referensi lain ada yang menyebutkan bahwa kelainan sel otot dan tulang bisa diakibatkan karena perdarahan yang berlangsung lama.
Kebanyakan para ibu tidak disiplin dalam penggunaan AKDR yang seharusnya diganti secara periodik, ini tidak dilakukan hingga terlewat puluhan tahun. Namun dibandingkan yang bersifat hormonal AKDR lebih rendah kurang resikonya. Bagi para pengguna AKDR disaranakan lebih sering secara berkala melakukan papsmear test.

Cara KB yang lebih minim resikonya adalah menggunakan jas (kondom). Penggunaannya yang sementara tidak menetap akan mengeliminir resiko-resiko yang telah disebutkan tadi. Hanya tetap perlu dikaji dan diteliti keamanan dari bahan dan siapa yang membuat jas tadi, wajib setifikasi halal. Resiko lainnya adalah kenyaman istri dan suami dalam berhubungan, akan tetapi duahal yang tadi disebut di awal lebih membuat istri tidak nyaman. Rosululloh membiarkan sahabtnya yang melakukan Ajel (coitus interuptus), ini yeng menjadi dalil bolehnya berKB, dan bisa dipertimbangkan menjadi salah satu model KB yang aman, sekali lagi kenyaman juga akan menjadi resiko yang harus didapat.

Cara lainnya adalah menggunakan sistem kalender. Keluarga harus benar-benar memastikan bahwa istri teratur haidnya. Jika teratur maka dapat diprediksi kapan bulan depan istri haid.Jika sudah tahu kapan istri akan haid (ini cukup sulit; dapat berubah-ubah) maka kita tinggal mengurangi 14 hari dari haid bulan yang akan datang sebagai masa subur. Ovum atau benih bisa hidup dalam rahim menunggu dibuahi hingga tiga hari, sedangkan sperma bisa hidup dua harian di dalam rahim. Jadi cari amannya keluarga bisa berhubungan tanpa memperhatikan pencegah kehamilan pada jarak enam hari sebelum haid. Bila siklus haid berubah menjadi pendek boleh jadi keluarga salah hitung dan jadi deh hamil. Jadi satu-satunya resiko dari teknik kalender adalah kehamilan.

Suami bisa mengenali tanda-tanda masa subur sang istri, selain menggunakan ovutest, test masa subur. Peningkatan suhu basal saat bangun tidur, banyaknya lendir sekitar jalan lahir dan kelihatan lebih bersemangat dan bergairah dibandingkan saat atau hari yang lain merupakan tanda-tanda masa subur. Kondisi ini akan diketahui bila telah lama berkeluarga. Pada masa menjelang haid para istri biasanya kurang bergairah, sensitif, dan butuh fore a play untuk meningkatkan adrenalinnya.

0 komentar:

Posting Komentar