Sebagai keluarga baru dahulu kami memiliki perencanaan untuk menentukan jumlah keluarga, apalagi melihat proses persalinan pertama yang sulit panjang dan melelahkan, kesehatan dan keselamatan istri menjadi prioritas. Rasanya memiliki tiga anak adalah kemampuan optimal kami dalam memberikan pelayanan dan pengasuhan kepada anak-anak, namun takdir berkata lain.
Setelah kelahiran anak pertama, dan setelah istri berhenti nifas, dengan pengetahuan yang terbatas maka kami mempertimbangan untuk menentukan jarak kelahiran selanjutnya dengan injeksi pertiga bulan sekali, karena berdasarkan informasi bahwa yang tiga bulan sekali ini lebih minimal efek sampingnya. Setelah beberapa kali atau kurang lebih enam bulan istri berKB injeksi, tidak menunggu lama gejala-gejala efek samping langsung kelihatan. Jadi tidak tegak melihat penderitaannya, akhirnya injeksi depo progestin yang pertiga bulan tersebut dihentikan.
Tidak lama setelah penghentian KB tersebut, kurang lebihnya tujuh bulan istri hamil kembali, jarak antara kehamilan pertama dan kesua sekitar dua tahun. Bersamaan dengan hal itu sayapun beruntung dapat melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Pajajaran. Pada saat kuliah, informasi tentang KB hormonal yang baru diujikan tersebut kami terima dari salah satu dosen, sehingga semakin membuat kami berhati-hati, apalagi istri, wanita yang patut mendapatkan perhatian lebih jangan jadi objek penderita apalagi ujicoba.
Anak kedua alhamdulillah masih perempuan juga. Rencana penundaan pun kami lakukan tanpa menggunakan KB hormonal, dan AKDR menjadi pilihan lainnya. Kami berkunjung ke salah satu bidan untuk memasang alat tersebut. Setelah pemeriksaan ternyata tak satupun alat IUD yang bisa dipasang, karena panjang ukuran rahimnya terlalu pendek. Ikhtiar lainnya kami lakukan setelah mendapatkan informasi ada dokter yang malang melintang membuat cincin IUD secara mandiri dan telah banyak berhasil, tempatnya di daerah Bandung.
Pemasangan berhasil dilakukan, dan kamipun tenang untuk sementara waktu sambil merencanakan kehamilan selanjutnya. Namun tidak menunggu lama, hari demi hari setelah pemasangan cincin IUD tersebut banyak keluhan dan penderitaan yang dialami istri, dari mulai sakit sekitar rahim, pendarahan dan ketidak nymanan lainnya. Kami memutuskan untuk mengangkat alat kontrasepsi tadi. Setelah pengangkatan alat kontrasepsi tadi tidak menunggu lama, karena kami berdua keturunan keluarga subur, istri hamil. Orangtua dan mertuapun gembira dan berharap anak yang ketiga ini laki-laki. Alhamdulillah sesuai harapan Alloh SWT menitipkan anak laki-laki kepada kami, akhirnya. Setelah kelahiran anak ketiga semua pihak menekan kami untuk menghentikan kelahiran selanjutnya. Kami pun sepakat untuk hal itu, yang kami masih bingung bagaimana cara penghentiannya, karena kontrapsepsi semuanya sudah digunakan dan gagal.
Satu alat kontrasepsi yang belum saya coba yakni kontrasepsi untuk suami, untuk laki-laki, setelah mengumpulkan beberapa informasi, ternyata diantara semua alat kontrasepsi inilah yang paling aman. Disamping menggunakan alat kontrasepsi kamipun mulai melirik sistem kalender, dengan memadukan kedua hal tersebut akan menambahkan kenyamanan (banyak yang tidak bisa diceritakan karena terlalu vulgar harus didarat). Untuk penggunaan kondom kuncinya adalah disiplin dari pasangan, biasanya tergoda untuk tidak disiplin karena merasa ribet, Hal inilah (kedisiplinan) yang membuat kami tidak mampu mempertahankan rencana awal, istripun kembali mengandung anak yang keempat. Kebetulan rumah kami pindah, jadi bisa menghindari orangtua dari tekanan jumlah anak. Jarak kelahiran semua anak kami sekitar dua tahun masing-masingnya.
Kami masih melanjutkan program KB yang terakhir dengan semangat disiplin yang tinggi, dan alhamdulillah hal itu dapat berlangsung dengan baik, hingg hampir lima tahun kami dapat menunda kelahiran. Namun pada tahun kelima anak laki-laki kami merengek minta adik laki-laki, karena hanya dia satu-satunya anak laki-laki kami. Kami tidak terlalu memandang serius keinginan tersebut. Semakin lama kami semakin fasih dengan program KB untuk pria plus kalender. Untuk kalender karena masa subur 14 hari sebelum haid, jadi kami coba dua model, awal setelah haid dan akhir menjelang haid saatnya untuk tidak berKB karena bukan masa subur. Hanya ada kehawatiran untuk yang setelah haid karena jadwal haid istri masih irreguler. Dan apa yang dihawatirkanpun terjadi istri hamil lagi.
Untuk kehamilan yang kelima ini ada alasan yang bisa menghibur diri, semoga laki-laki sesuai harapan anak lelaki kami biar ada temannya. Keyakinan ini juga bertambah baik, hingga pada suatu malam saya memimpikan kelahiran seorang bayi laki-laki. Saat kelahiran itupun tiba, dan perjalanannya hampir sesulit dan selama seperti anak yang pertama. Rasa iba, kasihan campur haru dan bahagiapun berkumpul jadi satu, kami menyebutkan akan kelima ini manusia enam juta dolar (ngikutin judul film).
Saat tulisan ini dibuat sudah hampir enam tahun berlalu, berdasarkan pengalaman kami, maka dapat disimpulkan KB yang paling efektif, aman dan nyaman adalah kondom. Bila istri haid teratur dan jadwal haidnya dapat diprediksi maka dapat dipadukan dengan sistem kalender, dimana pasangan tidak perlu berKB, 5 hari menjelang haid. Semoga bermanfaat.
0 komentar:
Posting Komentar